Matahari perlahan menghilang, dia seakan diam saja. Tak bersinar terik, dan berirama. Lalu sang bulan berbisik pelan.
"Apa yang kau resahkan?"
"Tidak ada"
Matahari kembali menghilang dan berganti datang gelap. Kini bulan datang, sendiri. Lalu kembali sang bulan bertanya kepada matahari yang jauh.
"Jujurlah, apa yang kau resahkan?"
"Hmm tidak ada"
Dan suatu hari bulan kembali tertutup awan hitam, beberapa awan hitam. Matahari memang tidak mengenal apa itu awan hitam, tapi ia pernah mendengarnya dan ia semakin pudar dan tak berterik. Dan sekarang matahari sendiri, bulan sedang tak bisa di ajak bicara. Awan hitam yang menutupinya seakan membuatnya tuli. Setelah awan hitam itu pergi, sang bulan kembali melihat matahari dan bertanya.
"Kenapa kau semakin pudar? Katakanlah apa ada yang salah?"
"Ya, awan hitam itu"
"Ada apa dengan mereka?"
"Ia membuatmu tuli akan panggilanku, aku tau aku hanyalah matahari, tapi aku juga memiliki waktuku sendiri"
"Maksudmu?"
"Kau tak sepenuhnya membuatku merasa nyaman, kau terus tertutup awan hitam itu sehingga aku tak punya waktu untuk memulai hari, apa kau senang dengan itu?"
"Tenanglah, aku hanya ingin memberikan keindahanku untukmu, suatu saat kita akan berganti bahkan bertemu di suatu orbit"
"Maafkan aku"
"Kenapa?"
"Aku terlalu menginginkanmu"
Lalu perlahan matahari pun pergi dengan tenang dan perlahan memberikan teriknya. Sang bulanpun terlihat sangat senang dan tenang. Sampai pada suatu hari awan hitam itu muncul lagi dan menutupi bulan untuk beberapa malam. Matahari hanya bisa gelisah. Tak tau apa yang harus ia lakukan. Apa benar ini pilihannya? Apakah orbitnya sudah benar? Lalu matahari bersenandung lewat teriknya dan tanpa ragu ia menutupi rasa bahagia dan sakitnya.