Kututup bukuku dan mencoba untuk melalui hari seperti biasa. Aku berjalan di atas ketidakseimbangan semenjak hari pertama aku melihat matanya. Telah lama aku nantikan pintu itu terbuka setelah sekian lama aku terjerat dalam jerat hitamnya. Kurasa ini tak adil, ya, sungguh tak adil. Aku yang sampai sekarang mencari, kenapa harus terasa seperti menyakitkan seperti ini? Sepertinya pintu itu tak kunjung terlihat terbuka sampai saatnya kata-kata terdengar seperti mantra dan mulai terbuka.
Kubuka dan kulihat lagi bukuku, bab nya terlihat hampir habis. Dan kulihat lagi ke depan lalu perlahan aku mulai sadar apakah pintu itu benar ada untuk ku buka? Haruskah aku terus mencari kuncinya sampai aku sadar bahwa kuncinya tak pernah ada untukku? Yang kutahu satu hal adalah, mereka selalu berkata bahwa tak ada gunanya untuk terpojok dan rendah. Mereka bilang ini semua butuh waktu dan proses, tapi kenyataannya aku tak bisa menahan diri lagi. Aku yang sekarang benar-benar ingin tahu apa artinya mencari. Kurasa musim panas akan tiba, ini adalah waktunya untukku beranjak, ya, seharusnya.
Kubuka dan kulihat lagi bukuku, dan ini bab terakhir. Aku mulai merasa pintu itu terus tertutup. Perlahan sebuah cahaya kecil menghampiriku dan bertanya 'Apa kau masih sanggup? Apa kau masih ingin mencari?' lalu aku berpaling tak peduli. Seakan ini tak nyata adanya, aku tak tahu pasti siapa yang harus kugenggam dalam kegelapan. Bahkan ia tak peduli dan aku hanya ingin tahu apa isi pintu tersebut dan menjalani kehidupan di dalamnya. Dan perlahan aku seperti menyadari bahwa sebenarnya pintu itu terbuka sedikit, aku hanya harus terus mencari, bukan menunggu.
No comments:
Post a Comment