The transparency of their soul. Devastated the city with their pinnochio talks. Abandon all the struggle.
Put that rose in your brain and see the blood on my hands. Rip my chest off and see what’s inside. Iridescent.
Wretch’s corpse can’t tell you anything. This bayside view won’t let you go any further. This ain’t a syndrome but a scene of a murder.
Not sober enough to talk, high enough to kill, and drunk enough to bless. Can be an outfight but desperate.
She’s trapped in the spider’s web. I don’t need your sympathy, so just go with it. Bring a gun so you can be safe and sound.
But even if those spider’s web trapped her for this short time, she don’t even care with the caterpillar down there.
Traitor and their sympathy. Lock the door and don’t ever look back. If you want to be free, don’t play the game.
Once the door unlocked, they always try to find a joy with what’s inside. So undeniable and incredible, because the joy wasn’t inside.
She’s outside now, living a life and don’t even care with the rules. And all of the spiders dead because they’re put a gun in their mouth.
They’re pulled the trigger and everything’s fine. No tears for revenge, no blood on their hands. Abandoned town in the edge of the country.
Sunday, July 17, 2011
Sunday, June 26, 2011
The Endless Drama
Complex and untouchable. Floating against the gravity. I’m not over you, but you are. Fighting for the undeniable.
Don’t turn me upside down. My head’s not supposed to be there. I’m already down and ready to let it go.
You only have to wait and see. As the truth’s revealed, my ice cold eyes won’t let me see you anymore.
And before you find me fainted, you will find me dancing with you. As the time goes, we will go unnoticed.
It’s gonna be the downfall of us both when we lost our faith. Don’t ever pull the trigger if you aren’t that brave yet.
The drama is here at the moment. Don’t you ever enjoy the game because we are going to the top and fall.
At least we don’t need a therapy. All we need is faith and truth. Why do you want to go when you’re there with them? Don’t look back.
And when the time comes, I will be the one to go far away from here.
Slipping away.
Don’t turn me upside down. My head’s not supposed to be there. I’m already down and ready to let it go.
You only have to wait and see. As the truth’s revealed, my ice cold eyes won’t let me see you anymore.
And before you find me fainted, you will find me dancing with you. As the time goes, we will go unnoticed.
It’s gonna be the downfall of us both when we lost our faith. Don’t ever pull the trigger if you aren’t that brave yet.
The drama is here at the moment. Don’t you ever enjoy the game because we are going to the top and fall.
At least we don’t need a therapy. All we need is faith and truth. Why do you want to go when you’re there with them? Don’t look back.
And when the time comes, I will be the one to go far away from here.
Slipping away.
Monday, May 30, 2011
Rotasi Tak Terarah
Matahari perlahan menghilang, dia seakan diam saja. Tak bersinar terik, dan berirama. Lalu sang bulan berbisik pelan.
"Apa yang kau resahkan?"
"Tidak ada"
Matahari kembali menghilang dan berganti datang gelap. Kini bulan datang, sendiri. Lalu kembali sang bulan bertanya kepada matahari yang jauh.
"Jujurlah, apa yang kau resahkan?"
"Hmm tidak ada"
Dan suatu hari bulan kembali tertutup awan hitam, beberapa awan hitam. Matahari memang tidak mengenal apa itu awan hitam, tapi ia pernah mendengarnya dan ia semakin pudar dan tak berterik. Dan sekarang matahari sendiri, bulan sedang tak bisa di ajak bicara. Awan hitam yang menutupinya seakan membuatnya tuli. Setelah awan hitam itu pergi, sang bulan kembali melihat matahari dan bertanya.
"Kenapa kau semakin pudar? Katakanlah apa ada yang salah?"
"Ya, awan hitam itu"
"Ada apa dengan mereka?"
"Ia membuatmu tuli akan panggilanku, aku tau aku hanyalah matahari, tapi aku juga memiliki waktuku sendiri"
"Maksudmu?"
"Kau tak sepenuhnya membuatku merasa nyaman, kau terus tertutup awan hitam itu sehingga aku tak punya waktu untuk memulai hari, apa kau senang dengan itu?"
"Tenanglah, aku hanya ingin memberikan keindahanku untukmu, suatu saat kita akan berganti bahkan bertemu di suatu orbit"
"Maafkan aku"
"Kenapa?"
"Aku terlalu menginginkanmu"
Lalu perlahan matahari pun pergi dengan tenang dan perlahan memberikan teriknya. Sang bulanpun terlihat sangat senang dan tenang. Sampai pada suatu hari awan hitam itu muncul lagi dan menutupi bulan untuk beberapa malam. Matahari hanya bisa gelisah. Tak tau apa yang harus ia lakukan. Apa benar ini pilihannya? Apakah orbitnya sudah benar? Lalu matahari bersenandung lewat teriknya dan tanpa ragu ia menutupi rasa bahagia dan sakitnya.
"Apa yang kau resahkan?"
"Tidak ada"
Matahari kembali menghilang dan berganti datang gelap. Kini bulan datang, sendiri. Lalu kembali sang bulan bertanya kepada matahari yang jauh.
"Jujurlah, apa yang kau resahkan?"
"Hmm tidak ada"
Dan suatu hari bulan kembali tertutup awan hitam, beberapa awan hitam. Matahari memang tidak mengenal apa itu awan hitam, tapi ia pernah mendengarnya dan ia semakin pudar dan tak berterik. Dan sekarang matahari sendiri, bulan sedang tak bisa di ajak bicara. Awan hitam yang menutupinya seakan membuatnya tuli. Setelah awan hitam itu pergi, sang bulan kembali melihat matahari dan bertanya.
"Kenapa kau semakin pudar? Katakanlah apa ada yang salah?"
"Ya, awan hitam itu"
"Ada apa dengan mereka?"
"Ia membuatmu tuli akan panggilanku, aku tau aku hanyalah matahari, tapi aku juga memiliki waktuku sendiri"
"Maksudmu?"
"Kau tak sepenuhnya membuatku merasa nyaman, kau terus tertutup awan hitam itu sehingga aku tak punya waktu untuk memulai hari, apa kau senang dengan itu?"
"Tenanglah, aku hanya ingin memberikan keindahanku untukmu, suatu saat kita akan berganti bahkan bertemu di suatu orbit"
"Maafkan aku"
"Kenapa?"
"Aku terlalu menginginkanmu"
Lalu perlahan matahari pun pergi dengan tenang dan perlahan memberikan teriknya. Sang bulanpun terlihat sangat senang dan tenang. Sampai pada suatu hari awan hitam itu muncul lagi dan menutupi bulan untuk beberapa malam. Matahari hanya bisa gelisah. Tak tau apa yang harus ia lakukan. Apa benar ini pilihannya? Apakah orbitnya sudah benar? Lalu matahari bersenandung lewat teriknya dan tanpa ragu ia menutupi rasa bahagia dan sakitnya.
Saturday, May 21, 2011
My Bliss, My Dope
What a night
A call
A short conversation
And the change of season
Such a glorious night
What I really need is...
An endless conversation
At least a longer conversation
Wish you were here tonight
A call
A short conversation
And the change of season
Such a glorious night
What I really need is...
An endless conversation
At least a longer conversation
Wish you were here tonight
Wednesday, May 4, 2011
Akhir Sebuah Awal
Kututup bukuku dan mencoba untuk melalui hari seperti biasa. Aku berjalan di atas ketidakseimbangan semenjak hari pertama aku melihat matanya. Telah lama aku nantikan pintu itu terbuka setelah sekian lama aku terjerat dalam jerat hitamnya. Kurasa ini tak adil, ya, sungguh tak adil. Aku yang sampai sekarang mencari, kenapa harus terasa seperti menyakitkan seperti ini? Sepertinya pintu itu tak kunjung terlihat terbuka sampai saatnya kata-kata terdengar seperti mantra dan mulai terbuka.
Kubuka dan kulihat lagi bukuku, bab nya terlihat hampir habis. Dan kulihat lagi ke depan lalu perlahan aku mulai sadar apakah pintu itu benar ada untuk ku buka? Haruskah aku terus mencari kuncinya sampai aku sadar bahwa kuncinya tak pernah ada untukku? Yang kutahu satu hal adalah, mereka selalu berkata bahwa tak ada gunanya untuk terpojok dan rendah. Mereka bilang ini semua butuh waktu dan proses, tapi kenyataannya aku tak bisa menahan diri lagi. Aku yang sekarang benar-benar ingin tahu apa artinya mencari. Kurasa musim panas akan tiba, ini adalah waktunya untukku beranjak, ya, seharusnya.
Kubuka dan kulihat lagi bukuku, dan ini bab terakhir. Aku mulai merasa pintu itu terus tertutup. Perlahan sebuah cahaya kecil menghampiriku dan bertanya 'Apa kau masih sanggup? Apa kau masih ingin mencari?' lalu aku berpaling tak peduli. Seakan ini tak nyata adanya, aku tak tahu pasti siapa yang harus kugenggam dalam kegelapan. Bahkan ia tak peduli dan aku hanya ingin tahu apa isi pintu tersebut dan menjalani kehidupan di dalamnya. Dan perlahan aku seperti menyadari bahwa sebenarnya pintu itu terbuka sedikit, aku hanya harus terus mencari, bukan menunggu.
Kubuka dan kulihat lagi bukuku, bab nya terlihat hampir habis. Dan kulihat lagi ke depan lalu perlahan aku mulai sadar apakah pintu itu benar ada untuk ku buka? Haruskah aku terus mencari kuncinya sampai aku sadar bahwa kuncinya tak pernah ada untukku? Yang kutahu satu hal adalah, mereka selalu berkata bahwa tak ada gunanya untuk terpojok dan rendah. Mereka bilang ini semua butuh waktu dan proses, tapi kenyataannya aku tak bisa menahan diri lagi. Aku yang sekarang benar-benar ingin tahu apa artinya mencari. Kurasa musim panas akan tiba, ini adalah waktunya untukku beranjak, ya, seharusnya.
Kubuka dan kulihat lagi bukuku, dan ini bab terakhir. Aku mulai merasa pintu itu terus tertutup. Perlahan sebuah cahaya kecil menghampiriku dan bertanya 'Apa kau masih sanggup? Apa kau masih ingin mencari?' lalu aku berpaling tak peduli. Seakan ini tak nyata adanya, aku tak tahu pasti siapa yang harus kugenggam dalam kegelapan. Bahkan ia tak peduli dan aku hanya ingin tahu apa isi pintu tersebut dan menjalani kehidupan di dalamnya. Dan perlahan aku seperti menyadari bahwa sebenarnya pintu itu terbuka sedikit, aku hanya harus terus mencari, bukan menunggu.
Subscribe to:
Posts (Atom)