Tenang, ini bukan tentang siapa atau apa. Jangan cepat tergelitik. Hanya saja aku menemukan sebuah elegi didalam epigram. Unik? Entahlah, semoga semua ini benar. Setiap bait-nya kubaca pelan, dan ya cepat saja kutemukan sebuah elegi pada epigram-nya, hanya saja dia memperkaya dirinya dengan keindahan yang tertutup sebelah mata (atau berpura-pura?). Mungkin saja warnanya biru, lalu karena saking takutnya ia terjatuh untuk meninggi ia menutupi warna birunya dengan warna hitam dan putih, jadi ia terlihat berbeda.
Pelan-pelan kubaca lagi setiap bait sampai tak ada yang tersisa kecuali gambar, kutemukan lagi sebuah elegi kecil tapi cukup dalam di bait terakhirnya. Ya, dia sangat menyayangi hidupnya, tak ada lagi perang pena. Kurasa jubahnya juga cukup untuk menutupi hujan yang besar nantinya, tapi bukan badai.
Tunggu dulu, memangnya ini pesan? Bukan, ini hanya sebuah lamunan malam.
Kalau satu, dua orang saja bisa bahagia, kenapa kita tidak? Pasti ada jalan untuk mencapai 'bahagia' itu, hanya harus samakan perspektif dan konsep saja (perlukah?). Entahlah, semoga semuanya baik-baik saja.
Sekali lagi tenang, ini bukan tentang siapa atau apa.