Monday, May 30, 2011

Rotasi Tak Terarah

Matahari perlahan menghilang, dia seakan diam saja. Tak bersinar terik, dan berirama. Lalu sang bulan berbisik pelan.

"Apa yang kau resahkan?"
"Tidak ada"

Matahari kembali menghilang dan berganti datang gelap. Kini bulan datang, sendiri. Lalu kembali sang bulan bertanya kepada matahari yang jauh.

"Jujurlah, apa yang kau resahkan?"
"Hmm tidak ada"

Dan suatu hari bulan kembali tertutup awan hitam, beberapa awan hitam. Matahari memang tidak mengenal apa itu awan hitam, tapi ia pernah mendengarnya dan ia semakin pudar dan tak berterik. Dan sekarang matahari sendiri, bulan sedang tak bisa di ajak bicara. Awan hitam yang menutupinya seakan membuatnya tuli. Setelah awan hitam itu pergi, sang bulan kembali melihat matahari dan bertanya.

"Kenapa kau semakin pudar? Katakanlah apa ada yang salah?"
"Ya, awan hitam itu"
"Ada apa dengan mereka?"
"Ia membuatmu tuli akan panggilanku, aku tau aku hanyalah matahari, tapi aku juga memiliki waktuku sendiri"
"Maksudmu?"
"Kau tak sepenuhnya membuatku merasa nyaman, kau terus tertutup awan hitam itu sehingga aku tak punya waktu untuk memulai hari, apa kau senang dengan itu?"
"Tenanglah, aku hanya ingin memberikan keindahanku untukmu, suatu saat kita akan berganti bahkan bertemu di suatu orbit"
"Maafkan aku"
"Kenapa?"
"Aku terlalu menginginkanmu"

Lalu perlahan matahari pun pergi dengan tenang dan perlahan memberikan teriknya. Sang bulanpun terlihat sangat senang dan tenang. Sampai pada suatu hari awan hitam itu muncul lagi dan menutupi bulan untuk beberapa malam. Matahari hanya bisa gelisah. Tak tau apa yang harus ia lakukan. Apa benar ini pilihannya? Apakah orbitnya sudah benar? Lalu matahari bersenandung lewat teriknya dan tanpa ragu ia menutupi rasa bahagia dan sakitnya.

Saturday, May 21, 2011

My Bliss, My Dope

What a night
A call
A short conversation
And the change of season
Such a glorious night
What I really need is...
An endless conversation
At least a longer conversation

Wish you were here tonight

Wednesday, May 4, 2011

Akhir Sebuah Awal

Kututup bukuku dan mencoba untuk melalui hari seperti biasa. Aku berjalan di atas ketidakseimbangan semenjak hari pertama aku melihat matanya. Telah lama aku nantikan pintu itu terbuka setelah sekian lama aku terjerat dalam jerat hitamnya. Kurasa ini tak adil, ya, sungguh tak adil. Aku yang sampai sekarang mencari, kenapa harus terasa seperti menyakitkan seperti ini? Sepertinya pintu itu tak kunjung terlihat terbuka sampai saatnya kata-kata terdengar seperti mantra dan mulai terbuka.

Kubuka dan kulihat lagi bukuku, bab nya terlihat hampir habis. Dan kulihat lagi ke depan lalu perlahan aku mulai sadar apakah pintu itu benar ada untuk ku buka? Haruskah aku terus mencari kuncinya sampai aku sadar bahwa kuncinya tak pernah ada untukku? Yang kutahu satu hal adalah, mereka selalu berkata bahwa tak ada gunanya untuk terpojok dan rendah. Mereka bilang ini semua butuh waktu dan proses, tapi kenyataannya aku tak bisa menahan diri lagi. Aku yang sekarang benar-benar ingin tahu apa artinya mencari. Kurasa musim panas akan tiba, ini adalah waktunya untukku beranjak, ya, seharusnya.

Kubuka dan kulihat lagi bukuku, dan ini bab terakhir. Aku mulai merasa pintu itu terus tertutup. Perlahan sebuah cahaya kecil menghampiriku dan bertanya 'Apa kau masih sanggup? Apa kau masih ingin mencari?' lalu aku berpaling tak peduli. Seakan ini tak nyata adanya, aku tak tahu pasti siapa yang harus kugenggam dalam kegelapan. Bahkan ia tak peduli dan aku hanya ingin tahu apa isi pintu tersebut dan menjalani kehidupan di dalamnya. Dan perlahan aku seperti menyadari bahwa sebenarnya pintu itu terbuka sedikit, aku hanya harus terus mencari, bukan menunggu.