Thursday, September 29, 2011

Penantian Musim

Pada kali pertama, yang dia inginkan hanyalah menyendiri. Ya, setelah kabar di musim panas dari merpati itu, perahu kecil tak lagi banyak bersuara. Tapi tidak sebelum ini, perahu kecil seringkali berkata bahwa dia hanya ingin mencoba untuk tidak terus bergantung pada angin yang membawanya. Ia kini tersudut di sisi sungai kecil, berpikir.

Apakabar kau, wahai angin?
Apakah kau bahagia?

Jelas saja, dia pasti bahagia, dia memiliki banyak awan yang mendorongnya untuk terus berpindah. Sementara perahu kecil itu hanya punya seekor merpati yang terus menemaninya walau ia tak banyak bicara. Konsep bahagia itu belum berubah, perahu kecil melihatnya sebagai, "angin akan bahagia walaupun perahu kecil tak berlayar". Tanpa mengetahui benar atau salah dari konsep bahagianya itu, perahu kecil terus berasumsi bahwa ia benar-benar masih membutuhkan angin untuk membawanya.

Dimana kau, wahai angin?
Sudahkah kau bahagia?

Lalu musim panas perlahan seperti berhenti. Harapan perahu kecil untuk bisa bertemu kembali dengan angin kini sirna sudah. Bukan menyerah, ia hanya tak mau terus berada di bawah bayangan pohon besar yang selama ini melindunginya dari apapun. Konsep bahagia itu kini berubah. "Aku pasti akan bahagia kalau aku bisa mendapatkan angin di musim yang lain". Lalu perahu kecil pun membentangkan layarnya dan sudah siap untuk melewati semuanya. Ya, semua suka dan duka yang menantinya.

Wahai angin.
Semoga kau bahagia.
Kini aku siap mengarungi luasnya lautan.
Aku siap melihat banyak awan di atas layarku.
Aku siap untuk mendengar kabar dari merpati bahwa kau bahagia.
Sampai jumpa di lain waktu.
Sampai jumpa di konsep lain dari bahagia.



Catatan musim panas.
Perahu kecil.